بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Istighfar dan muhasabah ( Introspeksi diri ) Rasulullah SAW merupakan
sikap syukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat yang diberikan
sekaligus sebagai contoh untuk umatnya. Nabi SAW adalah pribadi yang
ma’shum bebas dari dosa. Meski begitu menurut sebagian ulama’, disamping
sebagai uswah, istighfarnya adalah untuk perkara-perakara yang mubah
dilakukan Rasulullah SAW, bukan untuk kesalahannya. Maka, kita mestinya
lebih banyak lagi melakukan penyadaran diri ini. Karena kita manusia
yang tidak ma’shum, tidak memiliki jaminan di akhirat kelak.
Coba bandingkan diri kita dengan Rasulullah SAW, sosok yang sudah
jelas-jelas dijamin syurga dan kehidupan akhiratnya oleh Allah. Beliau
masuk melakukan introspeksi diri sehari dengan memohon ampunan selama
seratus kali (HR. Muslim). Dalam riwayat Imam Bukhari disebut tujuh
puluh kali.
Bila kesadaran ini kurang, bisa jadi kehidupan kita terkena teguran, atau bisa jadi merupakan azab bila tidak dibawa bertaubat. Karena dosa kecil bila diremehkan akan senantiasa menumpuk. kehidupan akan menjadi sempit, dan dunia akan terus dikepala, karena seharusnya kepada Allahlah kita mencari kebahagiaan dan kemenangan. Disinilah kebahagiaan sejati dan hakiki, bukan semu dan bersifat sementara alias melakukan kegiatan yang merupakan pelarian, karena hanya ditangan Allah sajalah segala sumber kebaikan. Dengan melakukan ketaatan, berjuang menghindari maksiat.







0 komentar:
Posting Komentar