Bersama : ANAZ SMPN 23 SBY
Apakah wujud ujian iman itu? jawabnya adalah Cobaan Hidup.
Namun perlu saya kemukakan disini bahwa yang dimaksud dengan cobaan
hidup itu tidak hanya berupa penderitaan, seperti mengalami bencana
banjir bandang, diterjang angin puting beliung, dirampok, mengalami
kebakaran, atau tragedi lainnya, melainkan juga berupa kenikmatan
semacam memiliki harta benda yang banyak, menduduki jabatan, atau posisi
tinggi dan strategis. Bagi Allah, apa saja di alam semesta ini dapat
digunakan sebagai sarana ujian iman makhluknya.
Jadi,
siapa saja dikatakan telah mencapai derajat spiritualitas atau iman
yang tinggi dan berkualitas manakala dia lulus dari ujian iman. Hal ini
sejatinya sudah diterangkan oleh Allah SWT dalam Kitab Suci-Nya,
Al-Qur'an, surat 29 ayat 2-3, yang terjemahannya adalah, "Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami
telah beriman", sedang mereka tidak di uji lagi? Dan sesungguhnya kami
telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan sesunguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang berdusta.
Demikianlah dalam kehidupan ini. Cobaan hidup atau musibah
diturunkanoleh Allah SWT kepada manusia untuk menunjukkan apakah
spiritualitas kita benar-benar tertancap kuat dalam jiwa kita,
mempribadi dalam diri kita ataukah hanya lahiriah, eksoteri semata.
Singkatnya, dari cobaan hidup atau musibah itu akan kelihatan apakah
ibadah kita kepada Allah SWT itu berpengaruh pada jiwa kita ataukah
tidak. iman kita benar-benar 24 karat atau hanya palsu belaka.
Jadi,
sejatinya apakah spiritualitas kita itu berkualitas ataukah tidak
ditentukan oleh bagaimana sikap, perbuatan, pikiran, dan ucapan kita
sewaktu mengalami cobaan hidup atau musibah, bukan ditentukan oleh
banyak sedikitnya kita melaksanakan ibadah. Jika sewaktu menjalani
cobaan hidup kesengsaraan kita bersikap sabar, tawakal, tidak putus asa,
bahkan memperbanyak ingat kepada Allah SWT, serta sewaktu menjalani
cobaan hidup kenikmatan kita bersikap membelanjakan kenikmatan itu
sesuai dengan aturan Allah SWT, bukan untuk menuruti hawa nafsu, maka
itu bukti bahwa spiritualitas kita memang berkualitas. Ibadah dan
pelaksanaan ajaran agama kita selama ini benar-benar mempengaruhi jiwa
kita dan mempribadi dalam diri kita. bila tidak demikian, itu berarti
ibadah dan pelaksanaan ajaran agama kita selama ini hanya lahiriah,
sekedar hiasan, dan sia-sia.
Dalam islam, ibadah atau pengabdian kepada Allah SWT dapat
dikelompokkan kedalam dua kelompok besar : (1) Ibadah mahdhah, yaitu
ibadah pokok dan minimal yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang
mengaku islam, dan (2) Ibadah tambahan (sunnah), yakni ibadah yang
berpahala apabila dilaksanakan dan tidak berdosa bilamana ditinggalkan.
yang termasuk ibadah mahdhah adalah apa yang disebuat Rukun Iman dan
Rukun Islam. Sedangkan yang tergolong ibadah tambahan (sunnah) seperti
shalat rawatib, shalat tahajud, shalat tarawih, puasa senin-kamis,
sedekah, dan masih banyak lainnya.
Singkatnya,
uraian diatas dengan jelas dan tegas menunjukkan kepada kita bahwa
dalam menjalankan ajaran agama, kita hendaknya lebih mengutamakan
kualitas bukan kuantitas. Maksudnya, kalau nyatanya kita hanya mampu dan
sempat melaksanakan ibadah mahdhah saja, tampa sempat melaksanakan
ibadah tambahan (sunnah), kita laksanakan ibadah itu sebaik-baiknya
sampai mempribadi dalam jiwa, sehingga ibadah itu menjadi obor dan
pembimbing bagi kita dalam menghadapi segala macam cobaan hidup didunia
ini dengan baik dan sukses. Spiritualitas atau iman demikian inilah yang
disebut spiritualitas atau iman yang berkualitas dan membawa kita
menggapai kebahagiaan lahir-batin dan dunia-akhirat.






0 komentar:
Posting Komentar