AnaZ SMPN 23 SbY. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Renungan Idul Fitri

Bersama : AnaZ SMPN23 SbY

Tak terasa, beberapa saat lagi kita akan tiba dihari nan fitri, hari dimana kita harus bergembira didalamnya, sebab kita telah merengkuh kemenangan melawan segenap godaan dan dorongan hawa nafsu yang bersemayam didiri kita.

Yang terpenting dihari nan fitri itu adalah ketulusan, sebab adalah bahasa kalbu yang sudah semestinya terbenam dalam fitrah kita sebagai manusia. Ketulusan adalah bahasa universal yang dapat menembus batas gender, usia, suku dan wilayah. Ketulusan adalah bahasa yang bisa dimengerti orang awam, dipahami cerdik cendekia, didengar si tuna rungu, dilihat sang tuna netra dan dirasakan setiap jiwa. Ketulusan adalah hiasan yang teramat indah.

Sayang seribu kali sayang. Betapa kita sering membuang serta mengabaikan ketulusan itu seperti tak ubahnya kita mencampakkan sepatu usang yang sudah tidak terpakai lagi.

Ditengah semarak Idul Fitri tahun ini, marilah kita bingkai potret ketulusan itu dalam pigura yang terindah. Tak peduli dengan jatuhnya gengsi, permintaan maaf harus kita haturkan bila memang kita bersalah, tanpa perlu berbelit-belit membuat argumentasi pembenaran perilaku diri. Tak peduli pula apapun sikap orang lain. Apakah mereka minta maaf atau tidak, namun pemberian maaf seharusnya kita curahkan kepada siapapun.

jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (QS. al-A'raf 7 : 199)

Idul Fitri pada hakekatnya adalah sebuah rangkaian peristiwa dan waktu dalam perjalanan kita menuju Allah. Adakah kita hendak mengisi perjalanan tersebut dengan permainan-permainan yang tidak diridhai Allah ?

Jadikanlah Idul Fitri sebagai sebuah moment bagi setiap kita untuk meningkatkan amal ibadah, bukan malah bersantai-santai dengan dalih menikmati masa istirahat setelah berbagai aktivitas ibadah dibulan ramadhan yang melelahkan.

Ramadhan tiba pada detik-detik terakhirnya. Bagi mereka yang khusuk dalam shaum dan qiyamul lail-nya pasti akan merasakan sedih, mengingat ramadhan yang akan pergi. Diatas sajadah masjid tempat iktikaf, mereka akan banyak menangis, mengenang detik-detik yang seakan terlalu cepat berlalu, dalam bulan suci nan syahdu yang datangnya cuma setahun sekali ini. Makin berat dada mereka.

Karena itulah jika kita renungi, Idul Fitri pada hakikatnya disediakan Allah untuk mereka yang rindu bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Rindu bertemu Ramadhan berarti rindu berjumpa Allah, karena pada hakikatnya pula ibadah-ibadah yang disunahkan pada syahrur-ramadhan itu tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ya, Idul Fitri tidak diadakan untuk mereka yang lalai beribadah, sebagaimana bunyi puisi arab : "Laysalied liman labisal jadidi, walakinnalied liman amaluhu tazid." Yang artinya : hari raya diadakan bukan untuk orang yang berpakaian baru, ia diadakan untuk orang yang sentiasa bertambah amal salehnya.

Kita memang sering melihat kenyataan yang ironis, justru mereka yang kerap melalaikan shaum, mangkir tarawih dan malas bertadarus-lah yang berhuru-hara, seolah merayakan kemenangan dihari lebaran nanti.

Bila Lebaran diadakan untuk mereka yang rindu berjumpa dengan Allah, tentu perayaannya dilakukan secara khusyuk, penuh kerendahan hati. Jika ada saatnya menikmati hidangan istimewa atau gelak tawa dikala silaturrahmi, itupun semata-mata hanya sebuah momen untuk menambah ungkapan syukur atas limpahan berkah dan rahmatNya yang sungguh tak terkira.

Akhirul kalam, selamat merayakan hari kemenangan. Semoga kita suka merayakannya dengan khusyuk, dengan fitri, dengan penuh kerendahan hati. Tak pantas kita berfoya-foya ditengah jumlah rakyat miskin yang kian bertambah. Tak layak lagi kita berlebih-lebihan, ketika sepiring ketupat sudah menjadi makanan mewah buat sebagian kaum papa.

Semoga renungan singkat ini bermanfaat dan dapat menambah ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sekali lagi, Mohon Maaf apabila ada kesalahan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mencari Makna Kebersamaan

Bersama : AnaZ SMPN23 SbY

TAK BISA dipungkiri lagi, setiap manusia terlahir sebagai makhluk sosial, yang selalu membutuhkan manusia lainnya dalam kehidupan. Namun tidak dapat disalahkan juga, jika ada manusia yang menyendiri kehidupannya dalam mencapai sebuah keinginan. Namun, kesendiriannya juga tidak akan bisa berlangsung lama, karena manusia akan terikat dengan aturan Tuhan yaitu harus berteman dalam kebersamaan. Kebersamaan disini tidak harus dikategorikan sebagai kekasih, isteri atau lawan jenis saja, tapi juga merupakan bagian dari kehidupan yaitu ciptaan Tuhan.


Kebersamaan dapat dikatakan sebagai persatuan atau bersatu. Negara kita, Indonesia tercinta, menjadikan semboyan bangsanya adalah simbol persatuan yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Tidak dapat dibayangkan jika semboyan itu dilalaikan dan kemerdekaan secara pemerintahan tidak akan mungkin kita dapat.

Begitu indahnya sebuah kebersamaan atau persatuan. Kita pasti pernah mendengar ilustrasi tentang kebersamaan yang di umpamakan sebagai sapu lidi. Sebatang lidi tak berarti apa-apa, namun ketika disatuakan ia menjadi alat penyapu yang bisa membersihkan sampah.

Ilustrasi sapu lidi tersebut menjelaskan kepada kita betapa pentingnya kebersamaan atau persatuan tersebut. Namun, begitu banyaknya ilustrasi kebersamaan diterima, tapi masih banyak perpecahan disekitar kita. Mulai dari keluarga hingga diluar rumah tangga pun sudah tidak asing lagi. Seperti yang kita lihat di hari-hari terakhir belakangan ini. Begitu banyak pertentangan yang terjadi dikalangan masyarakat. Sikap anarkisme dan brutalisme jelas telah menciderai makna kebersamaan yang selama ini kita cari dan senantiasa kita dambakan.

Dalam banyak riwayat digambarkan bahwa Rasulullah SAW selalu memelihara shalat secara berjamaah. Sepanjang melaksanakan shalat, mereka menjalin hubungan mesra, bukan saja dengan Allah (habl min Allah), melainkan juga dengan sesama manusia (habl min an-nas).

Sesungguhnya, keseluruhan gerakan dalam shalat mengilustrasikan persamaan dankesetaraan, sekaligus mengikat kuat kebersamaan dan kedekatan satu sama lain. Dalam suasana batin yang tulus, jasad yang bersih, tak ada kata yang terucap kecuali mengagungkan Allah. Setelah seorang imam menutup surat al=Fatihah, jamaah pun menjawab, "amin".

Dalam shalat, sesungguhnya merupakan cerminan bahwa kita dapat menyamakan persepsi, sikap, dan bahkan perilaku. Lihatlah, ketika waktu shalat tiba, kita semua harus menghentikan sementara seluruh aktivitas yang tengah dilakukan. Selayaknya kita bergegas mendatangi rumah-rumah Allah dan bertasbih mengormati rumah suci. Semua berbaris rapi, mengikuti isyarat yang sama untuk melakukan gerakan yang sama pula.

Keseluruhan persamaan kita akan tercurak total kepada Sang Pencipta.

Dipenghujung shalat, semua serempak menebar keselamatan, "Assalamu'alaikum", sebagai wujud penghambaan kepadaNya dan penghormatan kepada sesamanya. Inilah wujud kebersamaan yang dibangun diatas nilai-nilai religiusitas keislaman.

Sebuah riwayat menyebutkan, pada kesempatan shalat berjamaah, Rasulullah SAW senantiasaberusaha memelihara kerukunan dengan para sahabat. Nasihat-nasihatnya disampaikan untuk mempertebal keyakinan dalam berkhidmat pada kepentingan ajaran. Mengalirlah kata-kata hikmah dari seorang Nabi pilihan Allah.

Kini, pemandangan sejarah itu semakin kabur. Suasana rukun pelan-pelan lenyap. rasulullah pun melihat pemandangan akhir zaman itu dalam suasana perih. Seolah tak sanggup menyaksikan kenyataan porak-porandanya umat, terpecah-pecah kepentingan dan egoisme. Semangat primordial yang sering mengancam kebersamaan, dan begitu mudah merobohkan tiang-tiang persaudaraan.

Kebersamaan merupakansisi kehidupan yang unik dan penuh pembelajaran. Memberi arti untuk setiap aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Memberikan kekuatan untuk melakukan sesuatu, mencapai suatu tujuan, tapi sering tidak disadari akan makna kebersamaan itu sehingga saat-saat bersama sering terabaikan dan terlewatkan begitu saja bagaikan waktu yang berjalan begitu cepat tampa kita sadari dia akan pergi.

Makna kebersamaan hendaknya bukan sekedar slogan melainkan pemahaman, penerapan dan pengelolaan yang diupayakan untuk terus membudaya. Semoga kajian singkat ini bermanfaat. Wallahu A'lam...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Together: ANAZ SMPN 23 SBY
Time goes by quickly, while the pressure of living increase. Where everything looks blurred even darker. But do not be afraid, Allah SWT is always giving instructions to his servant, who is always patient and trust. Do not despair, because despair is a sin. Prayer and endeavor is the way to success.

H. Sugeng Pramono is an example of success through prayer and endeavor, by diligence and hard work that dilakoninya. H. Sugeng Pramono can enjoy a happy life. With IZI Allah SWT, reflecting what it wanted could be obtained easily.

Being useful to others is one of the H. Sugeng Pramono. Mengingkatkan to people that things can happen on earth if Allah wills, fate can not be changed, but fate can be changed. By what fate can be changed? Obviously with prayer and effort. That's according to the word of Allah in the Quran:

"Verily Allah will not change the fate of a people is that they themselves change their destiny ..." (Ar-Ra'du: 11)

Friends of the reader, to achieve a success not only worked diligently studying and working, all it takes perseverance and hard work as well as regular and sincere prayer. Do not do something with forced or coerced, by all means to submit to Allah SWT.

Rest assured that we are able to achieve that success, encouragement and motivation is also very necessary to further detail the support and enthusiasm that we keep trying. The existence of the people we love is one of the factors to be successful.

Hopefully this brief description useful for the reader friend.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cobaan Hidup Dan Kualitas Iman

Bersama : ANAZ SMPN 23 SBY

Apakah wujud ujian iman itu? jawabnya adalah Cobaan Hidup. Namun perlu saya kemukakan disini bahwa yang dimaksud dengan cobaan hidup itu tidak hanya berupa penderitaan, seperti mengalami bencana banjir bandang, diterjang angin puting beliung, dirampok, mengalami kebakaran, atau tragedi lainnya, melainkan juga berupa kenikmatan semacam memiliki harta benda yang banyak, menduduki jabatan, atau posisi tinggi dan strategis. Bagi Allah, apa saja di alam semesta ini dapat digunakan sebagai sarana ujian iman makhluknya.
Jadi, siapa saja dikatakan telah mencapai derajat spiritualitas atau iman yang tinggi dan berkualitas manakala dia lulus dari ujian iman. Hal ini sejatinya sudah diterangkan oleh Allah SWT dalam Kitab Suci-Nya, Al-Qur'an, surat 29 ayat 2-3, yang terjemahannya adalah, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak di uji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesunguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.
Demikianlah dalam kehidupan ini. Cobaan hidup atau musibah diturunkanoleh Allah SWT kepada manusia untuk menunjukkan apakah spiritualitas kita benar-benar tertancap kuat dalam jiwa kita, mempribadi dalam diri kita ataukah hanya lahiriah, eksoteri semata. Singkatnya, dari cobaan hidup atau musibah itu akan kelihatan apakah ibadah kita kepada Allah SWT itu berpengaruh pada jiwa kita ataukah tidak. iman kita benar-benar 24 karat atau hanya palsu belaka.
Jadi, sejatinya apakah spiritualitas kita itu berkualitas ataukah tidak ditentukan oleh bagaimana sikap, perbuatan, pikiran, dan ucapan kita sewaktu mengalami cobaan hidup atau musibah, bukan ditentukan oleh banyak sedikitnya kita melaksanakan ibadah. Jika sewaktu menjalani cobaan hidup kesengsaraan kita bersikap sabar, tawakal, tidak putus asa, bahkan memperbanyak ingat kepada Allah SWT, serta sewaktu menjalani cobaan hidup kenikmatan kita bersikap membelanjakan kenikmatan itu sesuai dengan aturan Allah SWT, bukan untuk menuruti hawa nafsu, maka itu bukti bahwa spiritualitas kita memang berkualitas. Ibadah dan pelaksanaan ajaran agama kita selama ini benar-benar mempengaruhi jiwa kita dan mempribadi dalam diri kita. bila tidak demikian, itu berarti ibadah dan pelaksanaan ajaran agama kita selama ini hanya lahiriah, sekedar hiasan, dan sia-sia.
Dalam islam, ibadah atau pengabdian kepada Allah SWT dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok besar : (1) Ibadah mahdhah, yaitu ibadah pokok dan minimal yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku islam, dan (2) Ibadah tambahan (sunnah), yakni ibadah yang berpahala apabila dilaksanakan dan tidak berdosa bilamana ditinggalkan. yang termasuk ibadah mahdhah adalah apa yang disebuat Rukun Iman dan Rukun Islam. Sedangkan yang tergolong ibadah tambahan (sunnah) seperti shalat rawatib, shalat tahajud, shalat tarawih, puasa senin-kamis, sedekah, dan masih banyak lainnya.
Singkatnya, uraian diatas dengan jelas dan tegas menunjukkan kepada kita bahwa dalam menjalankan ajaran agama, kita hendaknya lebih mengutamakan kualitas bukan kuantitas. Maksudnya, kalau nyatanya kita hanya mampu dan sempat melaksanakan ibadah mahdhah saja, tampa sempat melaksanakan ibadah tambahan (sunnah), kita laksanakan ibadah itu sebaik-baiknya sampai mempribadi dalam jiwa, sehingga ibadah itu menjadi obor dan pembimbing bagi kita dalam menghadapi segala macam cobaan hidup didunia ini dengan baik dan sukses. Spiritualitas atau iman demikian inilah yang disebut spiritualitas atau iman yang berkualitas dan membawa kita menggapai kebahagiaan lahir-batin dan dunia-akhirat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ujian Dan Nikmat Alloh S.W.T Berikan

Allah menguji kita dengan sesuatu yang sangat kita sayang, kita diberi cobaan dengan kehilangan.

Allah menguji kita dengan sebuah impian yang amat kita harapkan, kita terduduk berlinang airmata saat impian gagal digapai.

Ya. Kita kan hamba pada-Nya yang Esa, kita juga hadapi ujian yang sama seperti ini. Sesungguhnya yakinlah DIA pemberi segala, kerana segalanya kepunyaan-Nya.

Saat ditariknya nikmat yang ada, DIA sedang mengaturkan untukmu sesuatu yang lebih berharga. Jangan bersedih, dunia ini tidak selayaknya ditangisi.

La Tahzan, jangan bersedih, karena hal itu tak selayaknya untuk ditangisi, bersyukurlah karena telah diberikan nikmat oleh-Nya. Jangan selalu berprasangka buruk atas nikmat yang telah diberikan.

Terkadang sesuatu yang rutin kita terima menjadi biasa dan tidak berarti apa-apa. Dan kita baru merasa kehilangan ketika ia tidak kunjung hadir kembali. Maka bersyukurlah atas apa yang kita miliki, atau kita hanya bisa menyesalinya karena terlambat menyadari kehadirannya.
Sometimes what we receive a regular routine and do not mean anything. And we just feel lost when she did not come back. So be grateful for what we have, or we can only regret it because it's too late to notice him.

Sobat, berbanggalah dengan dirimu sendiri atas apa yang telah kamu raih, jangan sesekali menyangka bahwa Tuhan tidak adil, itu hanya pikiran orang bodoh. Orang pintar tidak akan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Ia akan berfikir mengapa dia seperti ini, itulah kunci kesuksesan yang cukup sederhana, Berfikirlah. Karena fikiran mampu membuat kita semakin cerdas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Article Islamic-Dialog With Eath





Abdullah bin Iyas tells of his father, that one day Umar bin Abdul Aziz delivered the corpse to the grave his family. When the other bridesmaids had left, Omar and one of his companions remained in the grave. Companions asked, 'O Commander of the Faithful, the bodies that you have left Take it, do not you also want to leave?
Islamic Articles - Dialogue With the Land
Umar replied, Yes, I also want to leave, only burial that was behind me as if to call me and say, O Umar, do you not want to ask me about what I've done against one you love this?

yes

I have been tearing up the winding sheet, tore his body, sucking blood and eating his flesh.

Do not you want to ask about what I had done to his limbs?

YES

I have removed one by one the palms of hastanya bone, two bones hastanya of the upper arm bone and the upper arm from the shoulder bone. I also have removed both thigh bones of both legs, both legs of ruasnya, both ruasnya from calf bone and both legs from his feet.

A moment later, Umar wept and said, Is not a mortal world. A noble person would be contemptible, the rich will become poor, young and old will fade from life as well be dead as well?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENDENGAR DAN TAAT KEPADA FIRMAN ALLAH SWT DAN HADIST

MENDENGAR DAN TAAT KEPADA FIRMAN ALLAH SWT DAN HADIST - Tidak ada satu ayat atau Hadis pun yang menerangkan bahwa ciri manusia berakal adalah banyak bicara. Orang yang berakal lebih banyak diam, merenung, dan berkonsentrasi mengerahkan kekuatan berpikirnya untuk menggali berbagai mutiara hikmah. Teladan terbaik dalam hal ini tidak lain adalah Rasulullah sendiri. Jabir bin Samurah mensifati Nabi dengan mengatakan, "Nabi lebih banyak diam dan sedikit tertawa," (Riwayat Ahmad). Maka pantaslah bila Allah Ta’ala memberinya keistimewaan berupa jawami' al-kalim (kata-kata singkat tapi padat makna)

Mendengar dan Taat Kepada Firman Allah SWT dan Hadist
Satu ciri khas orang yang berakal dinyatakan dengan jelas pada akhir ayat 18 surat Al-Zumar [39], yaitu lebih banyak mendengar.

Satu-satunya rumus untuk menjadi manusia yang baik adalah menaati petunjuk Sang Pencipta yang terangkum dalam wahyu-Nya. Dalam rangka itu mesti ada proses penerimaan informasi mengenai tuntunan tersebut. Tersumbatnya informasi berakibat fatal. Manusia bisa gagal menjadi baik.

Jadi, Allah Yang Maha Bijaksana tidak mungkin menutup pintu informasi tersebut bagi hamba-Nya. Inilah yang diterangkan Allah Ta'ala dalam al-Qur'an: "Sesungguhnya mahluk bergerak yang bernyawa yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar." (Al-Anfal [8]: 22-23)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A’raf [7]: 179)

Pada ayat ini dengan jelas Allah Ta’ala memberikan syarat untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, yakni mutlak harus menjalankan tiga fungsi tersebut yang salah satunya adalah pendengaran.

Ciri utama orang tercela adalah tuli alias tidak mau mendengar.

Allah Ta’ala, dalam al-Qur`an surat Al-Baqarah [2] ayat 171, mengumpamakan orang-orang yang menyeru kepada orang-orang kafir seperti penggembala yang memanggil binatang ternak. Binatang-binatang itu tak akan mendengar selain seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta. Mereka sama sekali tidak mengerti.

Allah Ta’ala juga memberi sifat kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an surat al-An’am [6] ayat 39, laksana orang yang pekak, bisu, dan berada dalam gelap gulita.

Adapun orang-orang munafik, kata Allah Ta’ala dalam Surat al-Baqarah [2] ayat 17-18, seperti orang-orang yang tuli, bisu dan buta. Mereka tidak akan kembali ke jalan yang benar. Kita mengenali petunjuk Allah, menerimanya sepenuh hati akan membawa kita kepada kebaikan didunia dan akhirat. Semoga Allah memudahkan kita menerima kebenaran yang mutlak yaitu dari Al Qur'an dan Sunnah, tanpa banyak membantah, amin yaa Robbal 'alamiin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Efek Blog